VISI DAN MISI
VISI
Sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang menjadikan Islam yang menjadikan kader-kader Pemimpin Umat penghafal al-Qur’an dan mampu menjelaskan kandungan al-Qur’an dengan Ilmu-ilmu Bahasa Arab.
MISI
- Membentuk generasi yang uggul menuju terbentuknya Khairul Ummah
- Mendidik dan mengembangkan Generasi Mukmin, yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berfikir bebas.
- Mengembang dan melestarikan ilmu-ilmu agama Islam yang tertuang dalam dan kitab-kitab Turost dan literatur Modern.
- Mencetak generasi penghafal al-Qur’an serta dapat memahami kandungan al-Qur’an dengan dibekali ilmu-ilmu Bahasa Arab.
MOTO
BERBUDI TINGGI, BERBADAN SEHAT, BERPENGARUHAN LUAS, BERFIKIR BEBAS.
PANCA JIWA
- Jiwa Keikhlasan
Jiwa yang pertama adalah keikhlasan. Prinsip ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu, melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah Lillah. Kyai dan guru ikhlas dalam mendidik, para pembantu Kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan, serta para santri yang ikhlas dididik. - Kehidupan yang sederhana tentu sangat erat kaitannya dengan pondok pesantren. Kehidupan santri yang tentram bersahaja tentu jauh dari kata berlebihan, mubazir dan lain sebagainya. Sederhana tidak berarti pasif atau menerima begitu saja, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Maka dibalik kesederhanaan itu terpancarlah jiwa besar, berani maju dalam menghadapi perjuangan hidup, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan disinilah tumbuhnya mental/karakter yang kuat yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan.
- Jiwa Kemandirian
Kemandirian atau sering disebut juga dengan Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri) adalah kesanggupan menolong diri sendiri. Jiwa tersebut merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain.
Meskipun demikian, dalam hal ini pondok tidak bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu. Seperti kata pimpinan: “Pondok dibantu karena maju, bukan maju karena dibantu”. Karena pondok selalu bergerak maju maka orang tergerak untuk membantu, dan apabila tidak ada yang membantu pondok, maka pondok akan tetap mengusahakan keperluannya secara mandiri, tetapi bila ada yang membatu akan diterima secara baik. - Jiwa Ukhuwwah Islamiyyah
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah Islamiyyah. Tidak ada dinding pemisah di antara mereka; apapun latar belakang keluarga, suku, budaya, bahkan bangsa semua larut dalam jalinan ukhuwwah Islamiyyah. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat. - Jiwa Perjuangan
Jiwa perjuangan harus selalu ada dalam setiap individu santri, guru, kyai, dan seluruh warga pondok. Dalam perjuangan harus ada keihklasan, artinya memurnikan niat dalam berjuang. Sehingga ketika santri sukses nanti bukan hanya kenikmatan dunia yang didapat, melainkan kenikmatan akhirat juga turut serta. Memperjuangkan pondok tidak dapat dilakukan sendirian, tapi harus dilakukan secara berjamaah, santri berjuang, guru berjuang, kyai berjuang, semuanya berjuang untuk memperkuat antara satu dengan lainnya. Seperti air, pasir, batu, semen, dan besi jika disatukan dan disusun akan menjadi sebuah bangunan yang kokoh.
PANCA TERTIB
- TERTIB HATI:
Tertib hati merupakan unsur penting dalam melakukan kegiatan apapun. Ketika suasanan hati baik maka sebanyak apapun pekerjaan akan mudah diselesaikan, sebaliknya jika hati tidak dalam suasana baik maka sulit untuk mengerjakan sesuatu meskipun itu sedikit. Oleh karena itu kita harus tahu bagaimana menertibkan hati kita, mengolah, mensucikan, memperbaiki, memperbaharui niat terus menambah dengan amalan-amalan ataupun ibadah yang wajib maupun sunnah. Ketika hati itu jernih maka tertib-tertib selanjutnya akan dapat dilaksanakan dengan mudah. - Tertib Lingkungan:
Tertib lingkungan harus selalu kita kampanyekan setiap hari. Dimulai dari diri kita, karena lingkungan ini adalah milik kita, rumah kita, dan kita yang menempati. Setiap individu harus menyadari pentingnya kebersihan, semua harus sadar, semua harus peduli serta tidak menumpukkan ke satu bagian saja, inikan urusan cleaning service harusnya dia yang membersihkan dan sebagainya. - Tertib Waktu
Menurut kaum materialistik time is money, karena tujuan utamanya adalah uang. Sedangkan menurut kita waktu adalah ibadah, jadi lebih luas. Ibadah bukan hanya di masjid, tetapi bisa dimana saja dan kapan saja, tidak terbatas tempat dan waktu. Sangat rugi orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sangking pentingnya waktu Allah bersumpah dalam al-Qur’an وَالْعَصْرِ (demi masa), وَالنَّهَارِ (demi siang), وَاللَّيْلِ (demi malam) yang semua itu menunjukkan waktu tertentu. Tertib waktu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena waktu itu adalah kehidupan itu sendiri. Salah satu cara mendisiplinkan diri adalah dengan datang tepat waktu. Dengan dapatnya kita menghargai waktu maka akan terciptalah suatu kedisiplinan dalam kehidupan kita dan dengan menertibkan waktu yang kita miliki juga menjadikan pekerjaan kita lebih produktif. Untuk memulai menertibkan waktu harus dimulai dari diri kita sendiri, bagaimana kita mau nenertibkan urusan lainnya kalau kita tidak bisa menertibkan urusan kita sendiri. - Tertib Bahasa
Tertib bahasa yang dimaksud disini adalah cara berkomunikasi antar warga pondok internal maupun eksternal. Sesama umat Islam kita harus bisa berkomunikasi dengan baik, harus selalu menjaga komunikasi. Sesuatu yang baik kalau tidak dikomunikasikan bisa menimbulkan kesalahfahaman, begitu juga hal yang kurang pas apabila dikomunikasikan akan menghasilkan sesuatu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an فَقُوْلَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا berbicaralah kamu berdua kepadanya (fir’aun) dengan perkataan yang lembut. Logikanya kalau kepada fir’aun saja nabi Musa dan nabi Harun disuruh untuk berbicara secara lembut, apalagi sesama orang mukmin. Tidak boleh saling menjatuhkan antara satu dengan lainnya, semua harus saling menjaga ucapan. - Tertib KBM:
Kegiatan belajar mengajar akan berkualitas ketika niat kita ikhlas, hati jernih, lingkungan bersih, kedisiplinan waktu yang tepat, berbicaranya baik tidak penuh dusta dan sia-sia. Para santri belajar dengan penuh kesadaran, tanpa adanya paksaan, begitu juga guru yang mengajar harus ikhlas, tidak mengajar karena ini itu dan lainnya. Adab santri ketika belajar juga harus dijaga, apa yang tampak itu adalah akhlaq. Adab itu lebih tinggi dari pada ilmu itu sendiri, karena adab itu bisa dikatakan implementasi dari ilmu yang dikuasai, semakin tinggi adab semakin banyak pula ilmunya, maka akan semakin tawadu. inovasi dalam pembelajaran harus selalu diperbaharui dan dikembangkan. Seiring berkembangnya zaman maka kebutuhan terhadap alat maupun media juga berkembang, sehingga mengambil/mengadopsi hal-hal baru itu juga lebih baik. الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ أَصْلَح
“menjaga/memelihara sesuatu yang sudah ada itu baik, dan mengambil/mengadopsi sesuatu yang baru itu lebih baik”
PANCA JANGKA
- Pendidikan dan Pengajaran:
Maksud jangka ini adalah berusaha secara maksimal untuk meningkatkan dan menyempurnakan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Modern Darul Qiyam. Usaha ini tercatat dalam sejarah perjalanan Pondok ini yang dimulai dengan pendirian MTs Darul Qiyam 2021. Pendirian MA tahun 2024. Dan insyaallah ditahun 2035 pondok ini akan didirikan perguruan tinggi pesantren. - Kaderisasi:
Sejarah timbul dan tenggelamnya suatu usaha, terutama hidup dan matinya pondok-pondok di tanah air, memberikan pelajaran kepada para pendiri Pondok tentang pentingnya perhatian terhadap kaderisasi. Sudah banyak riwayat tentang pondok-pondok yang maju dan terkenal pada suatu ketika, tetapi kemudian menjadi mundur dan bahkan mati setelah pendiri atau kyai pondok itu meninggal dunia. Di antara faktor terpenting yang menyebabkan kemunduran ataupun matinya pondok-pondok tersebut adalah tidak adanya program kaderisasi yang baik. Bercermin pada kenyataan ini, Pondok Pesantren Modern Darul Qiyam memberikan perhatian terhadap upaya menyiapkan kader yang akan melanjutkan cita-cita Pondok. - Chizanatullah:
Di antara syarat terpenting bagi sebuah lembaga pendidikan agar tetap bertahan hidup dan berkembang adalah memiliki sumber dana sendiri. Sebuah lembaga pendidikan yang hanya menggantungkan hidupnya kepada bantuan pihak lain yang belum tentu didapat tentu tidak dapat terjamin keberlangsungan hidupnya. Bahkan hidupnya akan seperti ilalang di atas batu, “Hidup enggan, mati tak hendak”. Di antara usaha yang telah dilakukan untuk memenuhi maksud ini adalah membentuk suatu badan khusus yang mengurusi dana, bernama Pengembangan Ekonomi Pondok (PEP). Adapaun usaha-usaha pondok yang dikelola oleh PEP diantaranya: koperasi pondok pesantren dan akan lahir koperasi-koperasi lainnya.